
Kata Pengantar Buku TBC pada Anak
oleh dr. Handrawan Nadesul*
Berbicara soal penyakit TBC di Indonesia agaknya masih belum basi. Masalah penyakit TBC di mana-mana dunia demikian majemuknya sehingga buat kita di negara yang masih banyak tertinggal, juga dalam bidang kesehatan, harus diakui masih tetap belum kunjung tuntas terselesaikan. Bukan saja ihwal pencapaian keberhasilan upaya pengobatannya semata, terlebih upaya mencegahnya pun kita masih lemah.
Penanggulangan penyakit TBC tak cukup hanya perihal ketersediaan obat. Tak pula cukup soal kerterjangkauan, dan bagaimana kemudahan obat didapat. Terlebih apakah obat tertib dikonsumsi untuk waktu yang tidak pendek. Angka kepatuhan minum obat menentukan kesembuhan pasien, sekaligus keberhasilan menekan angka TBC nasional. Dan ini satu yang masih menjadi kendala kita.
Lebih dari itu, urusan TBC tak selesai hanya dengan obat. Faktor pendukung lain, termasuk apakah asupan menu harian pengidapnya sudah cukup bergizi? Memadaikah kandungan menu berprotein, terutama protein hewani, yang berasal dari susu, daging, dan telur? Dan satu yang jangan boleh dilupakan, apakah kondisi rumah sudah menunjang kesembuhan pasien juga.
Cukup memadaikah ventilasi, pencahayaan matahari, dan lantai yang seharusnya bebas dari dahak, serta senantiasa terjaga kebersihannya. Kondisi lemahnya ekonomi rata-rata keluarga pasien merupakan penghambat lain dalam menyelesaikan jangkitan selain tetap membengkaknya kasus lama TBC di Indonesia. Cemaran basil TBC dari dahak masih mengancam masyarakat kita sehingga angka kejadian TBC masih terbilang tinggi.
Cukup banyak pengidap TBC kita yang gagal diobati, dan berkeliaran di sekitar kita, mengancam siapa saja termasuk usia kanak-kanak. Kita tahu kelompok kanak-kanak tergolong rentan tertular TBC. Di tempat-tempat publik, seperti di dalam bus kota, kereta api, kendaraan umum, pasar, bioskop. puskesmas, dan rumah sakit sendiri, kebanyakan masyarakat, termasuk kelompok anak-anak, bertemu dengan pengidap TBC yang membawa basil di paru-parunya, siap menyebarkannya ke lingkungan sekitarnya. Bisa jadi mereka kasus TBC yang tak tersentuh pengobatan sehingga berpotensi menjadi sumber penular lewat dahak, batuk dan bersinnya ke udara sekitar.
Bersama dahak penderita TBC yang dibuang sembarangan, basil TBC mungkin saja mencemari lantai gedung bioskop, trotoar kota, atau di lingkungan sekolah sendiri, kalau bukan di sekitar rumah penderita. Dahak berbasil TBC yang mengering kemudian terbang ke udara siap mencemari paru-paru orang di sekitarnya. Dan ini masih menjadi sisi masalah TBC kita. Dahak TBC masih diludahkan sembarangan. Dan ini merupakan sumber penularan TBC yang perlu disingkirkan.
Ekonomi keluarga penderita TBC yang papa, berpendidikan rendah, menu bergizi rendah, dan kemudahan serta keterjangkauan dalam berobat, menjadi rantai masalah yang mesti diputus. Untuk itu perlu ikut campur bukan saja pihak layanan medik, terlebih kondisi otonomi daerah sendiri kini dituduh mengendurkan perhatian pemerintah terhadap upaya meredam masalah TBC di Indonesia. Ketika target MDGs sudah disusun dan diikrarkan, kita sendiri masih terengah-engah mengejar ketertinggalan bagaimana bisa kuat menekan angka TBC kita yang masih tergolong buruk.
Buku bertajuk Ancaman TBC pada Anak Indonesia seperti yang sedang Anda baca ini, salah satu bentuk sumbangsih untuk banyak pihak di negeri kita. Buku yang ingin membantu semua orang memahami sekaligus mendorong untuk menolong diri sendiri ketika pemerintah saja ternyata tak cukup perkasa mengatasi masalah TBC di negeri seluas ini.
Keluarga dengan TBC, apalagi jika diidap pihak kepala keluarga sebagai pencari nafkah, melemahkan pendapatan keluarga sekaligus kualitas hidup semua anggota keluarga. TBC sekadar diidap oleh kelompok anak saja pun sudah menurunkan kualitas hari depan keluarga. Mengapa?
Oleh karena penyakit TBC menghambat bukan saja pertumbuhan anak, melainkan juga laju perkembangannya. Anak dengan TBC tak sempurna tumbuh-kembangnya. Barang tentu ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang tak memadai dari yang seharusnya anak bakal menjadi. Hal ini mestinya tak boleh terjadi, karena sejatinya jangkitan TBC bisa dicegah.
Buku karya dr. Genis Ginanjar ini cukup komprehensif mengupas semua seluk-beluk permasalahan TBC bukan saja yang memprihatinkan di Indonesia, melainkan yang menjadi urusan global juga. Bagi banyak pihak, kehadiran buku ini membukakan alasan tambahan, bahwa penyakit TBC bukan urusan kecil buat bangsa kita. Dampak sosialnya melebar ke mana-mana.
Bahwa untuk menciptakan manusia unggul sebagaimana cita-cita MDGs, seperti disinggung dalam buku ini, perencanaan setiap keluarga hendaknya sudah harus diawali sejak anak masih di kandungan mula. Bagaimana agar setiap balita tidak sampai terjangkit TBC dengan cara mudah dan murah.
Kelemahan yang acap terjadi karena pendidikan kita rata-rata belum optimal memberdayakan masyarakat buat mampu hidup sehat, dan mampu terbebas dari terjangkit TBC. Termasuk menjadikan setiap ibu mampu memikul mandat membesarkan anak dengan benar.
Penyuluhan kesehatan kita juga tidak bertambah nyaring dari waktu ke waktu. Itu maka kesadaran masyarakat untuk minta divaksinasi TBC sebagai cara paling mudah dan murah mencegahnya, juga tidak sepenuhnya tumbuh. Padahal sudah disebut, masyarakat kita masih sangat terancam tertular basil TBC dari sanitasi yang masih buruk oleh dahak berbasil TBC yang tercecer di mana-mana.
Menjadi terjangkit TBC gara-gara abai pada imbauan bagaimana mudah dan murah mencegahnya, patutlah disesalkan, dan perlu diperbaiki. Masyarakat tak mengira dampak buruk TBC bisa sejauh itu bagi negara selain buat keluarga juga. Buku ini ingin mengingatkannya. Bahwa bagi orang dewasa, TBC menurunkan produktivitas. Bagi anak, berpotensi menunrunkan kualitas sumber daya manusia kelak. Maka jika yang keliru itu terus dibiarkan berkembang, angka kualitas hidup kita masih terus sukar untuk bangkit.
Sekali lagi kehadiran buku ini memberi sumbangsih besar buat banyak pihak. Bagaimana setiap keluarga dibukakan mata untuk abai pada urusan TBC di negerinya. Abai terhadap masalah TBC bukan saja akan merugikan pasien dan keluarga yang tertimpa, melainkan juga terhadap nasib bangsa juga. Masyarakat perlu diberi tahu untuk mampu terhindar dari penularan dan terjangkit TBC yang sebetulnya tak perlu terjadi itu.
Dr. Genis Ginanjar sebagai penulis buku ini ingin membantu agar urusan TBC di Indonesia, terhadap kelompok anak-anak khususnya, harus dilihat sebagai bagian terpenting dari terciptanya anak bangsa yang berkualitas, melihat begitu luas aspek TBC yang dikupasnya. Mudah-mudahan kehadiran buku ini menjadikan masalah TBC ke depan bukan lagi perongrong bagi anak-anak Indonesia.
Kita menginsafi, sebagian besar permasalahan kenapa TBC sukar sekali diselesaikan, lebih lantaran lemahnya komunikasi, informasi, dan edukasi yang disampaikan kepada masyarakat. Kuatnya informasi dan edukasi seperti yang sedang diusung buku ini, saya percaya bakal besar peranannya buat ikut meningkatkan kualitas bangsa sejak masih di awal usia kanak-kanak mula.
Semoga saja akan begitu jadinya.
Jakarta, Juli 2008
*Dokter, Penulis Buku Kesehatan Populer serta Pengasuh Kolom Kesehatan di Beberapa Media Cetak
Books are available at: bookoopedia.com, kampusbook.com, healthmagz.com