Senin, 20 Juli 2009

Buku Obesitas pada Anak


Bebebrap Komentar atas Buku Obesitas pada Anak

"Hingga saat ini Puskemas dan Posyandu memang masih memprioritaskan pencegahan dan penanggulangan penyakit gizi kurang pada balita dan anak , meski kita tidak boleh menutup mata atas fenomena peningkatan prevalensi penyakit kegemukan maupun obesitas pada balita maupun anak.

Fenomena peningkaian prevalensi kegemukan dan obesitas pada Anak antara lain disebabkan karena minimnya pemahaman dan perilaku hidup sehat masyarakat. Selamat kepada dr. Genis Ginanjar Wahyu atas terbitnya buku kegemukan dan Obesitas pada Anak ini!"

(dr. Ayu Wulandari, dokter PTT di Puskesmas Jakarta Selatan)

"Para orangtua kerap menganggap kegemukan pada anak merupakan fenomena yang wajar. Namun, buku Obesitas pada Anak yang ditulis oleh dr. Genis Ginanjar Wahyu telah membuka mata para orangtua  bahwa kegemukan maupun obesitas pada Anak merupakan penyakit yang mesti ditangani secara tepat".

(Hafsari, karyawati PT. Takaful)

 "Cakupannya yang luas, meliputi aspek klinis, epidemiologi dan kebijakan kesehatan  membuat buku ini layak menjadi satu sumber rujukan bagi masyarakat maupun para mahasiswa di bidang kesehatan terkait persoalan kegemukan dan obesitas pada anak".

(dr. Mita puspita, dokter umum)


Buku Obesitas pada Anak diterbitkan oleh Bentang Pustaka Mizan, Juli 2009

Buku ini dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung atau dipesan melalui www.bukabuku.com atau www.mizan.com insya Allah lebih dari 2,5 % royalti yang diterima akan penulis sumbangkan untuk Komunitas Fesbuk Peduli Pendidikan

Sabtu, 30 Mei 2009

HTTS dan Kepedulian terhadap Pendidikan

Hari ini adalah Hari Tanpa Tembakau Se-dunia (HTTS).

Setiap kita bisa berperan untuk mengurangi konsumsi dan dampak negatif rokok dimulai dari lingkungan terdekat; keluarga

Alihkan dana konsumsi rokok menjadi dana investasi pendidikan bagi keluarga Anda atau bagi masyarakat miskin di Komunitas Fesbuk Peduli Pendidikan

Genis Ginanjar Wahyu

Dokter, Penulis Buku : Demam Berdarah a survival guide, Bentang Pustaka Mizan 2007, TBC pada Anak, Dian Rakyat 2008

Books are available at: bookoopedia.com, kampusbook.com, healthmagz.com

butuh informasi dan tren gaya hidup sehat?
www.pestagagasan.blogspot.com

Minggu, 17 Mei 2009

Aspek Klinis Demam pada Anak

Aspek Klinis Demam pada Anak

 

  

Keluhan demam cukup banyak di jumpai pada anak yang berkunjung ke sarana kesehatan atau praktek dokter sehari-hari. Disinyalir, tak kurang dari 30% keluhan yang menyebabkan anak diperiksa ke dokter adalah demam.

Demam ditandai dengan  peningkatan suhu tubuh melebihi batas normal, yakni antara 36-36,8C. Demam merupakan respon sistem pertahanan tubuh (imunitas)  terhadap pelbagai agen penyebab demam, seperti infeksi bakteri, virus, protozoa, penyakit kanker dan lain sebagainya. Demam dikendalikan oleh sistem saraf pusat, yakni hipothalamus.

 

Apakah Demam Bermanfaat atau Merugikan bagi Tubuh Anak?

Dalam batas tertentu demam bermanfat, yakni sebagai upaya untuk melindungi tubuh, dengan cara  membatasi pertumbuhan agen infeksi penyebab demam, misalnya bakteri ataupun virus. Ketika demam, terjadi penurunan jumlah zat besi (Fe) bebas di dalam darah. Fe bebas ini amat diperlukan untuk pertumbuhan beberapa mikroba patogen di dalam tubuh.

Meskipun diketahui bermanfaat, namun demam tinggi diatas 38C kerap menimbulkan gejala penyerta yang tidak menyenangkan, seperti penurunan nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, pusing, hingga anak menjadi rewel dan juga membatasi aktifitas fisiknya. 

Selain itu, demam pada usia 6 bulan ke atas juga menyimpan ancaman kejang, yakni disebut kejang demam atau biasa disebut “step”. Meskipun beberapa kepustakaan  ilmiah menyatakan bahwa kejang demam pada anak relatif aman dan minim efek samping, namun kejadiannya kerap menimbulkan kecemasan para orangtua.

 

Aspek Klinis Demam

Yang perlu diketahui adalah tingginya demam tidak selalu berkaitan dengan beratnya penyakit. Begitupun sebaliknya. Sebagai contoh, infeksi Rhinovirus  penyebab flu ringan, biasanya ditandai dengan demam yang tinggi pada masa awal infeksi, dapat mencapai lebih dari 39C. Kemudian demam perlahan-lahan akan menurun pada hari ketiga atau keempat.

Sebaliknya penyakit TBC paru-paru yang amat berbahaya karena berpotensi menimbulkan kematian,  justru ditandai dengan demam yang tidak terlalu tinggi (subfebris), namun berlangsung setiap hari selama dua mingu atau lebih.

 

Mengenal Beberapa Penyebab Demam pada Anak

Sebelum memutuskan untuk membawa anak yang mengalami demam ke dokter, para orangtua perlu mengenal karakteristik dan kemugkinan penyebab demam yang diidap oleh putra-putrinya, agar terapi yang diberikan rasional dan bijaksana.

Secara klinis, demam yang berlangsung dalam jangka waktu antara 3-7 hari umumnya disebabkan oleh infeksi virus.  Demam akibat infeksi virus biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh yang mendadak tinggi dalam waktu 1-2 hari. Kemudian menurun pada hari ketiga dan seterusnya.

 Yang mesti diwaspadai pada musim pancaroba adalah ancaman infeksi dan penularan virus Dengue (baca: denggi) penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD), virus Varicela penyebab cacar air, juga infeksi Rhinovirus penyebab flu.

Terapi untuk demam yang disebabkan oleh infeksi virus biasannya bersifat simptomatis, yakni  untuk mengurangi keluhan atau gejala yang timbul, misalnya dengan pemberian obat penurun panas (antipiretik), pengurang rasa mual atau muntah (antiemetik) dan lain sebagainya.

Selain itu, terapi untuk infeksi virus juga bersifat suportif dengan pemberian vitamin penguat sistem imunitas ataupun pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi. Pemberian antibiotik pada demam akibat infeksi virus tidak diperlukan.

Jika demam berlangsung antara 7-14 hari, maka kemungkinan infeksi bakteri perlu dipertimbangkan. Infeksi  bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi penyebab demam tifoid (tifus abdominalis) kerap dijumpai di Indonesia. Selain itu, infeksi bakteri Stafilokokus dan Streptokokus juga mesti diwaspai sebagai penyebab infeksi saluran nafas atas (ISPA).

Untuk mengatasi demam akibat infeksi bakteri diperlukan antibiotik yang sesuai dengan jenis bakteri penyebabnya, selain pemberian terapi suportif untuk mengurangi gejala atau keluhan penyertanya. Yang penting diperhatikan adalah antibiotik ini mesti diminum sampai habis  (3-5 hari), unuk mencegah timbulnya kekebalan bakteri (resistensi) terhadap antibiotik. 

Jika demam berlangsung lebih dari 2 minggu, maka perlu dipertimbangkan kemungkinan penyebabnya adalah penyakit-penyakit kronis, seperti penyakit tuberkulosis (TBC) pada anak, penyakit kanker, maupun penyakit akibat kelainan sistem imunitas  atau alergi, seperti penyakit Juvenile Rhematoid Arthritis.  Penyakit-penyakit kronis ini perlu diperiksa secara cermat, dan pengobatannya biasanya berlangsung dalam waktu lama.   

 

Penutup

Para  orangtua mesti waspada namun tetap bijaksana dalam menyikapi demam pada anak. Demam yang tidak terlalu tinggi, dan tidak menimbulkan keluhan yang berarti cukup ditangani dengan cara dikompres dengan air hangat pada daerah lipatan ketiak dan dahi selama beberapa menit.

Berikan pula anak minum sebanyak yang diinginkan. Pemberian obat-obatan penurun panas mesti dilakukan  sesuai dengan anjuran dokter. Dan segeralah berkunjung ke dokter kembali, manakala demam tidak kunjung membaik dalam jangka waktu 3 hari atau lebih.

 

dr. Genis Ginanjar Wahyu

Dokter umum, Kader Kesehatan PKS Jakarta Timur, Penulis buku “Demam Berdarah; a survival Giude dan TBC pada Anak, Jangan Anggap Remeh, 2008)


 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 19 April 2009

Khasiat Jambu Biji untuk DBD

Jambu Biji sebagai Obat Tradisional bagi Penderita DBD


Masyarakat telah lama mempercayai khasiat jus jambu biji dalam mengobati penurunan trombosit pada penderita DBD.

Tertolongnya penderita DBD berkat jus jambu biji, bisa jadi bukan semata karena faktor jambunya, melainkan cairan jus yang masuk ke tubuh pasien dalam jumlah banyak. Cairan dalam jus jambu biji, apalagi jika diminum sampai 5- 6 gelas sehari, amat dibutuhkan pasien yang kehilangan banyak cairan plasma darah akibat kebocoran plasma. Namun, bagaimana sesungguhnya peran jambu biji dalam pengobatan penyakit DBD?

Penelitian Ilmiah tentang Khasiat Jambu Biji

Asumsi yang berkembang di masyarakat tentang khasiat jambu biji dalam mengobati penyakit DBD, mendorong banyak ahli melakukan serangkaian penelitian ilmiah. Seperti yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Peneliti yang juga seorang ahli ilmu penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Unpad, Heri Fadjari, mengatakan bahwa penelitian tentang manfaat jambu biji dalam pengobatan penyakit DBD itu baru merupakan penelitian awal dan  masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dan mendalam.

Penelitian dilakukan pada kurun waktu Juni 2003 hingga Desember 2003. Heri mengelompokkan pasien dalam dua kategori, yaitu 35 pasien dalam kategori kontrol (tidak diberi jus jambu biji) dan 35 orang lainnya diberi jus jambu. Pasien yang diberi jus jambu itu dikelompokkan lagi dalam dua kategori, yaitu pasien yang menunjukkan gejala klinis demam antara 2-3 hari dan pasien yang sudah 4-5 hari demam.

Hasil  penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus jambu pada saat pasien baru demam 2-3 hari lebih efektif, dibanding setelah demam mencapai 4-5 hari. Dosis yang diberikan kepada pasien itu adalah jus jambu biji 500 cc dalam satu kali 24 jam. Jambu biji merah mengandung zat golongan flavonoid, yaitu quercetin. Quercetin adalah salah satu dari sekitar 4.000 macam flavonoid. Diduga zat inilah yang berperan dalam mengobati penyakit DBD.

Sedangkan sekelompok peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya mengadakan penelitian pre-klinik terhadap ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) untuk pengobatan penyakit DBD. Herbal ekstrak daun jambu biji itu ternyata mampu menaikkan jumlah trobosit penderita DBD.

Hasil penelitian menyimpulkan ada 3 manfaat dari ekstrak daun jambu biji ini, yaitu sebagai anti-virus, mengurangi risiko kebocoran plasma akibat dari peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan dapat mengatasi trombositopenia.

Pada penelitian ini terjadi kenaikan trombosit cukup signifikan selama 24-48 jam. Hal itu bisa dilihat dari meningkatnya sel megakariosit pada sumsum tulang belakang. Megakariosit merupakan tempat memproduksi trombosit di sumsum tulang belakang. Bila megakariosit meningkat maka trombositopenia bisa dihindarkan.

Penelitian terhadap mencit (tikus kecil) yang diberikan ekstrak daun jambu biji secara oral (melalui mulut) telah membuktikan, herbal tersebut mampu menurunkan permeabilitas pembuluh darah. Dari   aspek uji keamanan (toksisitas), ekstrak daun jambu biji termasuk zat yang tidak toksik.

Daun jambu biji diketahui mengandung kelompok senyawa tanin dan flavonoid yang dinyatakan sebagai quersetin. Senyawa tersebut, lanjutnya, berkhasiat sebagai obat antivirus dengue. Senyawa tanin dalam ekstrak daun jambu biji ini dapat menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase, yang berarti juga menghambat pertumbuhan virus yang memilki gen RNA tersebut. 


Dikutip dari buku "Demam Berdarah; a Survival Guide, Mizan 2007)

Cegah Kebutaan dini sejak awal


Cegah kebutaan dini sejak awal


Kesehatan indra penglihatan yang optimal adalah hak setiap individu. Menyumbang lebih dari 83% sumber informasi, kebutaan pada indra vital itu menjadi faktor penghambat dan berpotensi menurunkan kualitas hidup.

Pada anak, kebutaan memberikan konsekuensi yang lebih buruk dibanding - kan dengan kondisi serupa pada usia dewasa karena proses tumbuh kembang dan rentang usia yang relatif masih panjang.

Manakala seorang anak divonis buta, kenyataan itu akan terus menyertai perjalanan hidupnya kecuali ada intervensi atau tindakan pencegahan.

Dalam istilah teknis kedokteran, kebutaan ada lah kegagalan penglihatan di mana tajam penglihatan (visus) terbaik -setelah dikoreksi- tidak mencapai 3 meter pada mata terbaik. Buta juga terjadi jika lapang pandang menyempit kurang dari 10 derajat dari pusat penglihatan.

Pada anak, kasus kebutaan terjadi sekitar 1,5 juta anak atau 3% dari total 50 juta penderita kebutaan di seluruh dunia.

Jumlah anak penderita kebutaan diper - kirakan terus bertambah sebanyak 500.000 kasus setiap tahun. Ironisnya, 40% kebutaan tersebut sebe narnya masih dapat dicegah a.l. dengan deteksi dini, pemberian alat bantu, dan terapi yang tepat.

Jika ditilik dari faktor penyebab, kebutaan pada anak amat bervariasi.

Anak-anak yang tinggal di lingkungan masyarakat miskin, kebutaan terutama disebabkan oleh faktor defisiensi vitamin A yang juga berkaitan erat dengan malnutrisi.

Hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 1992 menunjukkan separuh dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur 6 bulan-5 tahun menderita defisiensi vitamin A. Kemudian pada 1995, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia dengan tingkat pemenuhan vitamin A yang rendah.

Sementara itu, kajian Nutrition and Health Surveillance System (NSS) bekerja sama dengan Hellen Keller International (HKI) dan Departemen Kesehatan pada 2001 menunjukkan 50% anak Indonesia usia 12-23 bulan kekurangan vitamin A.

Selain faktor malnutrisi dan defisiensi vitamin A, lingkungan masyarakat yang tergolong miskin juga memicu kasus kebutaan pada anak akibat kebersihan diri dan sanitasi yang buruk.

Angka kebutaan pada anak di daerah semacam ini pun disumbang oleh infeksi rubella pada ibu hamil dan bayi dalam kandungan (rubella kongenital).

Adapun di lingkungan dengan taraf ekonomi yang mapan, seperti di beberapa negara maju, penyebab kebutaan pada anak umumnya disebabkan oleh retinopathy of prematurity, atau kelainan retina pada bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Dicegah

Beragam upaya antisipasi untuk pen - ce gahan dapat dilakukan. Pada anak usia se ko lah misalnya, sebaiknya di lakukan periksa mata sebelum memasuki sekolah dasar agar gangguan pengli hatannya dapat terkelola dengan baik.

Di sisi lain, pencegahan yang lebih simultan juga dilakukan WHO bekerja sama dengan Rumah Sakit Cicendo Bandung melalui Program Pencegahan Kebutaan pada Anak.

Target program ini adalah penurunan angka kebutaan pada anak dengan proporsi 0,4/1.000 anak pada 2020 dari saat ini 0,75/1.000 anak.

Upaya yang dilakukan adalah dengan membatasi atau mencegah parut pada kornea mata yang disebabkan oleh infeksi pada kornea akibat defisiensi vitamin A pada anak.

Untuk itu, Depkes bekerjas ama HKI membe rikan kapsul vitamin A bagi anak usia 6-59 bulan. Vitamin A dosis tinggi juga diberikan pada balita dan ibu nifas dengan periodisasi dua kali setahun, setiap Februari dan Agustus.

elain pemberian kapsul vi - tamin A, penurunan angka kebutaan pada anak juga di - lakukan dengan mencegah infeksi campak melalui imu - ni sasi dan pencegahan ophthal mia neonatorum pada bayi baru lahir dengan tetes mata antibiotik. Adapun, untuk pencegahan infeksi rubella kongenital dilakukan edukasi pada ibu hamil.

Secara khusus, pada anak dengan katarak bawaan atau katarak lainnya, harus segera dilakukan operasi dengan suatu teknik yang benar dan sarana rehabilitasi penglihatan pascabedah yang memadai sehingga setelah operasi anak dijamin terbebas dari mata malas (amblyopia).

Pada kondisi kelahiran bayi prematur, risiko kebutaan yang tinggi bisa ditekan dengan uji saring dan diperiksa oleh dokter mata pada minggu ke-4 dan ke-6 setelah lahir. Bila perlu, terapi laser untuk kelainan retina diberikan untuk mencegah kebutaan lanjut.

GENIS GINANJAR WAHYU
Dokter umum & penulis buku Demam Berdarah; A Survival Giude dan TBC pada Anak, Jangan Anggap Remeh. 

Tulisan ini dimuat Bisnis Indonesia 15/3/09

Jumat, 27 Maret 2009

Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue

Sekilas Tentang Demam Berdarah Dengue 


Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi pasti melalui teknik isolasi virus  baru dapat dilakukan  pada tahun 1970.

Sejak saat itu, penyakit DBD menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia, kecuali Timor-Timur (ketika itu berjumlah 27 provinsi -pen), telah terjangkit penyakit DBD. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus cenderung meningkat secara nyata, baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi  virus dengue (baca: virus denggi -pen), yang terdiri dari 4 tipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (baca: virus denggi tipe 1 - 4), dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD sebelumnya.

Kedua jenis nyamuk Aedes ini dapat dijumpai hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.

Gejala awal penyakit DBD seringkali menyerupai penyakit lain, seperti influenza (common cold) atau tipus (demam tifoid). Hal ini disebabkan karena gejala klinis akibat infeksi virus dengue pada tahap awal bisa jadi tidak  khas (spesifik). Sebagai gambaran, beberapa pasien anak penderita DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare pada hari-hari pertama  sakit, sehingga seringkali dianggap sebagai penyakit yang ringan oleh para orang tua dan terlambat dibawa ke sarana kesehatan. Sikap semacam ini seringkali berakibat fatal. Karena itu diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit yang potensial mematikan ini.

Meningkatnya jumlah kasus DBD serta bertambah luasnya wilayah yang terjangkit dari waktu ke waktu, antara lain disebabkan karena semakin majunya sarana transportasi masyarakat, kian padatnya pemukiman penduduk, kurangnya kepedulian masyarakat terhadap usaha-usaha kebersihan tempat tinggal dan lingkungan, terdapatnya nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebar (vektor) utama penyakit DBD hampir di seluruh pelosok tanah air, serta adanya 4 tipe virus dengue yang bersirkulasi sepanjang tahun.

Departemen Kesehatan  telah mengupayakan pelbagai strategi untuk mengatasi kasus DBD ini. Pada mulanya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan (fogging), kemudian strategi diperluas dengan menggunakan pembunuh jentik nyamuk (larvasida) yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.

Banyak dan cenderung meningkatnya jumlah kasus DBD setiap tahun, telah menimbulkan dampak kerugian yang luas, terutama pada aspek ekonomi dan kesehatan. Karena itu diperlukan adanya suatu upaya terpadu serta keterlibatan dan kepedulian semua pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun para stake holders di bidang kesehatan untuk secara sungguh-sungguh menekan laju penularan penyakit DBD di masyarakat.

Semoga di masa yang akan datang, penyakit DBD tidak lagi menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Dan hal itu dapat diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penyakit DBD, yang pada gilirannya diharapkan akan muncul perubahan sikap, perilaku serta kepedulian masyarakat terhadap penyakit yang potensial mematikan ini. 

  

Dokter, Penulis Buku : Demam Berdarah a survival guide, Bentang Pustaka Mizan 2007, TBC pada Anak, Dian Rakyat 2008

 Books are  available at: bookoopedia.com, kampusbook.com, healthmagz.com

 

Senin, 23 Maret 2009


Kata Pengantar Buku TBC pada Anak

oleh dr. Handrawan Nadesul*

 

Berbicara soal penyakit TBC di Indonesia agaknya masih belum basi. Masalah penyakit TBC di mana-mana dunia demikian majemuknya sehingga buat kita di negara yang masih banyak tertinggal, juga dalam bidang kesehatan, harus diakui masih tetap belum kunjung tuntas terselesaikan. Bukan saja ihwal pencapaian keberhasilan upaya pengobatannya semata, terlebih upaya mencegahnya pun kita masih lemah.

Penanggulangan penyakit TBC tak cukup hanya perihal ketersediaan obat. Tak pula cukup soal kerterjangkauan, dan bagaimana kemudahan obat didapat. Terlebih apakah obat tertib dikonsumsi untuk waktu yang tidak pendek. Angka kepatuhan minum obat menentukan kesembuhan pasien, sekaligus keberhasilan menekan angka TBC nasional. Dan ini satu yang masih menjadi kendala kita.

Lebih dari itu, urusan TBC tak selesai hanya dengan obat. Faktor pendukung lain, termasuk apakah asupan menu harian pengidapnya sudah cukup bergizi? Memadaikah kandungan menu berprotein, terutama protein hewani, yang berasal dari susu, daging, dan telur? Dan satu yang jangan boleh dilupakan, apakah kondisi rumah sudah menunjang kesembuhan pasien juga.

Cukup memadaikah ventilasi, pencahayaan matahari, dan lantai yang seharusnya bebas dari dahak, serta senantiasa terjaga kebersihannya. Kondisi lemahnya ekonomi rata-rata keluarga pasien merupakan penghambat lain dalam menyelesaikan jangkitan selain tetap membengkaknya kasus lama TBC di Indonesia. Cemaran basil TBC dari dahak masih mengancam masyarakat kita sehingga angka kejadian TBC masih terbilang tinggi.

Cukup banyak pengidap TBC kita yang gagal diobati, dan berkeliaran di sekitar kita, mengancam siapa saja termasuk usia kanak-kanak. Kita tahu kelompok kanak-kanak tergolong rentan tertular TBC. Di tempat-tempat publik, seperti di dalam bus kota, kereta api, kendaraan umum, pasar, bioskop. puskesmas, dan rumah sakit sendiri, kebanyakan masyarakat, termasuk kelompok anak-anak, bertemu dengan pengidap TBC yang membawa basil di paru-parunya, siap menyebarkannya ke lingkungan sekitarnya. Bisa jadi mereka kasus TBC yang tak tersentuh pengobatan sehingga berpotensi menjadi sumber penular lewat dahak, batuk dan bersinnya ke udara sekitar.

Bersama dahak penderita TBC yang dibuang sembarangan, basil TBC mungkin saja mencemari lantai gedung bioskop, trotoar kota, atau di lingkungan sekolah sendiri, kalau bukan di sekitar rumah penderita. Dahak berbasil TBC yang mengering kemudian terbang ke udara siap mencemari paru-paru orang di sekitarnya. Dan ini masih menjadi sisi masalah TBC kita. Dahak TBC masih diludahkan sembarangan. Dan ini merupakan sumber penularan TBC yang perlu disingkirkan.

Ekonomi keluarga penderita TBC yang papa, berpendidikan rendah, menu bergizi rendah, dan kemudahan serta keterjangkauan dalam berobat, menjadi rantai masalah yang mesti diputus. Untuk itu perlu ikut campur bukan saja pihak layanan medik, terlebih kondisi otonomi daerah sendiri kini dituduh mengendurkan perhatian pemerintah terhadap upaya meredam masalah TBC di Indonesia. Ketika target MDGs sudah disusun dan diikrarkan, kita sendiri masih terengah-engah mengejar ketertinggalan bagaimana bisa kuat menekan angka TBC kita yang masih tergolong buruk.

Buku bertajuk Ancaman TBC pada Anak Indonesia seperti yang sedang Anda baca ini, salah satu bentuk sumbangsih untuk banyak pihak di negeri kita. Buku yang ingin membantu semua orang memahami sekaligus mendorong untuk menolong diri sendiri ketika pemerintah saja ternyata tak cukup perkasa mengatasi masalah TBC di negeri seluas ini.

Keluarga dengan TBC, apalagi jika diidap pihak kepala keluarga sebagai pencari nafkah, melemahkan pendapatan keluarga sekaligus kualitas hidup semua anggota keluarga. TBC sekadar diidap oleh kelompok anak saja pun sudah menurunkan kualitas hari depan keluarga. Mengapa?

Oleh karena penyakit TBC menghambat bukan saja pertumbuhan anak, melainkan juga laju perkembangannya. Anak dengan TBC tak sempurna tumbuh-kembangnya. Barang tentu ada yang kurang, ada yang hilang, ada yang tak memadai dari yang seharusnya anak bakal menjadi. Hal ini mestinya tak boleh terjadi, karena sejatinya jangkitan TBC bisa dicegah.

Buku karya dr. Genis Ginanjar ini cukup komprehensif mengupas semua seluk-beluk permasalahan TBC bukan saja yang memprihatinkan di Indonesia, melainkan yang menjadi urusan global juga. Bagi banyak pihak, kehadiran buku ini membukakan alasan tambahan, bahwa penyakit TBC bukan urusan kecil buat bangsa kita. Dampak sosialnya melebar ke mana-mana.

Bahwa untuk menciptakan manusia unggul sebagaimana cita-cita MDGs, seperti disinggung dalam buku ini, perencanaan setiap keluarga hendaknya sudah harus diawali sejak anak masih di kandungan mula. Bagaimana agar setiap balita tidak sampai terjangkit TBC dengan cara mudah dan murah.

Kelemahan yang acap terjadi karena pendidikan kita rata-rata belum optimal memberdayakan masyarakat buat mampu hidup sehat, dan mampu terbebas dari terjangkit TBC. Termasuk menjadikan setiap ibu mampu memikul mandat membesarkan anak dengan benar.

Penyuluhan kesehatan kita juga tidak bertambah nyaring dari waktu ke waktu. Itu maka kesadaran masyarakat untuk minta divaksinasi TBC sebagai cara paling mudah dan murah mencegahnya, juga tidak sepenuhnya tumbuh. Padahal sudah disebut, masyarakat kita masih sangat terancam tertular basil TBC dari sanitasi yang masih buruk oleh dahak berbasil TBC yang tercecer di mana-mana.

Menjadi terjangkit TBC gara-gara abai pada imbauan bagaimana mudah dan murah mencegahnya, patutlah disesalkan, dan perlu diperbaiki. Masyarakat tak mengira dampak buruk TBC bisa sejauh itu bagi negara selain buat keluarga juga. Buku ini ingin mengingatkannya. Bahwa bagi orang dewasa, TBC menurunkan produktivitas. Bagi anak, berpotensi menunrunkan kualitas sumber daya manusia kelak. Maka jika yang keliru itu terus dibiarkan berkembang, angka kualitas hidup kita masih terus sukar untuk bangkit.

Sekali lagi kehadiran buku ini memberi sumbangsih besar buat banyak pihak. Bagaimana setiap keluarga dibukakan mata untuk abai pada urusan TBC di negerinya. Abai terhadap masalah TBC bukan saja akan merugikan pasien dan keluarga yang tertimpa, melainkan juga terhadap nasib bangsa juga. Masyarakat perlu diberi tahu untuk mampu terhindar dari penularan dan terjangkit TBC yang sebetulnya tak perlu terjadi itu.

 

Dr. Genis Ginanjar sebagai penulis buku ini ingin membantu agar urusan TBC di Indonesia, terhadap kelompok anak-anak khususnya, harus dilihat sebagai bagian terpenting dari terciptanya anak bangsa yang berkualitas, melihat begitu luas aspek TBC yang dikupasnya. Mudah-mudahan kehadiran buku ini menjadikan masalah TBC ke depan bukan lagi perongrong bagi anak-anak Indonesia.

Kita menginsafi, sebagian besar permasalahan kenapa TBC sukar sekali diselesaikan, lebih lantaran lemahnya komunikasi, informasi, dan edukasi yang disampaikan kepada masyarakat. Kuatnya informasi dan edukasi seperti yang sedang diusung buku ini, saya percaya bakal besar peranannya buat ikut meningkatkan kualitas bangsa sejak masih di awal usia kanak-kanak mula.

Semoga saja akan begitu jadinya.

 

Jakarta, Juli 2008

*Dokter, Penulis Buku Kesehatan Populer serta Pengasuh Kolom Kesehatan di Beberapa Media Cetak

Books are  available at: bookoopedia.com, kampusbook.com, healthmagz.com